Ups, Tingkat Stres Seseorang Ternyata Bisa Dilihat Dari Matanya
Berdasarkan keterangan dari sebuah studi baru, ternyata mata dapat mengukur stres seseorang yang sedang dibebankan oleh tidak sedikit tugas atau permasalahan hidup.
Seorang asisten profesor kiat sistem industri dan manufaktur di College of Engineering di University of Missouri, Jung Hyup Kim, menuliskan bahwa tidak sedikit orang mengerjakan multitasking dalam hidupnya, tetapi tidak terdapat pengukuran kesehatan mentalnya. Oleh karenanya, riset ini juga akhirnya dilakukan.
1. Penelitian ini melibatkan banyak para pekerja diberbagai bidang
Studi ini diterbitkan dalam International Journal of Human-Computer Interaction, yang mengaku bahwa masing-masing orang merasakan tingkat stres yang berbeda-beda. Oleh karena itu, Kim dan mahasiswa pascasarjana mempunyai nama Xiaonan Yang mengerjakan penelitian data untuk sekian banyak industri laksana komunikator, pekerja kantor, dan pekerja pabrik manufaktur guna mengukur tingkat stres karyawan ketika mereka melakukan tidak sedikit tugas, atau mengerjakan pekerjaan (pekerjaan secara kompleksitas rendah dan tinggi secara bersamaan.)
2. Penelitian ini menggunakan metode teknologi penangkap gerak dan pelacakan mata
Mereka mengerjakan perbandingan data dari metrik beban kerja yang dikembangkan NASA untuk semua astronotnya dengan pemantauan terhadap respons pupil dari partisipan dalam studi lab. Menggunakan ruang kontrol pabrik destilasi minyak dan gas yang disimulasikan, Kim dan Yang menyaksikannya melewati teknologi penangkap gerak dan pelacakan mata, saat para peserta bereaksi terhadap evolusi yang tidak terduga, laksana alarm, mereka secara bersamaan menyaksikan kinerja perangkat pengukur pada dua monitor.
3. Beban kerja seseorang dilihat dari perilaku mata yang tak menentu
Selama riset tersebut, perilaku penelusuran mata peserta lebih bisa diprediksi. Namun, saat tugas menjadi lebih perumahan dan saat perubahan tak tersangka terjadi, gerak-gerik mata mereka menjadi lebih tidak menentu.
Melalui pemakaian data dari riset laboratorium dan rumus yang diterapkan mereka, kejadian ink dinamakan dengan "dimensi fraktal," Kim dan Yang mengejar hubungan negatif antara dimensi fraktal pelebaran pupil dan beban kerja seseorang, mengindikasikan terjadinya pelebaran pupil dampak beban kerja mental seseorang dalam kegiatan multitasking.
4. Penelitian ini diharapkan bisa membantu para pekerja
Kim dan Yang bercita-cita temuan ini dapat menyerahkan wawasan yang lebih baik supaya para pekerja terhindar dari beban yang berlebihan dan supaya bisa membangun dunia kerja yang lebih aman. Temuan ini diharapkan dapat memberikan sinyal untuk para bos guna menilai tingkat stres maksimum yang dapat dialami seseorang sebelum mereka lelah, dan sebelum kinerja mereka jadi tidak maksimal.
"Menjadi urusan yang bagus andai orang dapat bekerja dengan sempurna masing-masing saat," kata Kim. "Namun saat seseorang kelelahan, orang tersebut akan sering menciptakan kesalahan. Jadi, andai kita dapat memantau kesejahteraan mental pekerja, maka kita dapat mencegah kekeliruan yang dapat saja terjadi."
Kim dan Yang berencana untuk menelaah lebih lanjut riset yang melibatkan sekian banyak kelompok usia dan perbuatan biometrik tertentu laksana detak jantung, sinyal otak, dan reaksi otot atau saraf.
Bagaimana, tertarik untuk meneliti matamu di cermin ketika anda sedang keletihan atau stres sebab pekerjaan?

No comments:
Post a Comment