Data Video Conference “Mampir” Ke China, Zoom Akui Kelalaian
Kim dan Yang bercita-cita temuan ini dapat menyerahkan wawasan yang lebih baik supaya para pekerja terhindar dari beban yang berlebihan dan supaya bisa membangun dunia kerja yang lebih aman. Temuan ini diharapkan dapat memberikan sinyal untuk para bos guna menilai tingkat stres maksimum yang dapat dialami seseorang sebelum mereka lelah, dan sebelum kinerja mereka jadi tidak maksimal.
"Menjadi urusan yang bagus andai orang dapat bekerja dengan sempurna masing-masing saat," kata Kim. "Namun saat seseorang kelelahan, orang tersebut akan sering menciptakan kesalahan. Jadi, andai kita dapat memantau kesejahteraan mental pekerja, maka kita dapat mencegah kekeliruan yang dapat saja terjadi."
Kim dan Yang berencana untuk menelaah lebih lanjut riset yang melibatkan sekian banyak kelompok usia dan perbuatan biometrik tertentu laksana detak jantung, sinyal otak, dan reaksi otot atau saraf.
Bagaimana, tertarik untuk meneliti matamu di cermin ketika anda sedang keletihan atau stres sebab pekerjaan?
Masalah terjadi sebab data center lapis kedua tersebut seharusnya tetap berada di lokasi pemakai (seperti tetap di area Amerika Utara guna pemakai AS); bukan yang bertempat di China. Bahkan data center di China seharusnya hanya dipakai oleh pemakai Zoom di China, menilik China sekitar ini dirasakan kurang menghargai privasi pemakai.
Lalu, kenapa video dapat “nyasar” ke China? Eric Yuan menyebut, bulan Februari kemarin Zoom memperbesar kapasitas data center Zoom di China seiring lonjakan pemakai. Sekadar mengingatkan, kala itu tidak sedikit kota di China berlaku lockdown dampak wabah Covid-19.
Saat ini, pemakaian Zoom di China tidak sebesar Februari, sampai-sampai sebagian kapasitas dapat dibilang menganggur. Karena itulah saat terjadi lonjakan pemakai di lokasi lain, sistem Zoom memindahkan sebagian pemakai ke data center Zoom di China.
Namun Eric Yuan mengklaim, jumlah video yang dipindahkan ke China paling terbatas. Saat ini, kekeliruan tersebut pun telah diperbaiki, sampai-sampai tidak terdapat sesi video Zoom yang mampir ke China.
Di samping masalah rerouting, peneliti Citizen Lab pun menemukan kekurangan lain dari platform Zoom, yakni masalah enkripsi. Tim peneliti menemukan, Zoom memakai sistem enkripsi produksi sendiri; bukan sistem enkripsi standar publik.
Di dunia IT security, pemakaian enkripsi produksi sendiri ialah “dosa” tersendiri. Pasalnya, enkripsi produksi sendiri sifatnya rahasia dan tidak dapat dianalisa oleh publik. Hal ini menciptakan publik tidak dapat menganalisa apakah ada kekurangan dari sistem enkripsi tersebut, tergolong apakah terdapat lubang ketenteraman yang dapat dieksploitasi.
Soal enkripsi ini, Zoom berjanji bakal berkonsultasi dengan pakar IT security supaya dapat menyerahkan perlindungan security lebih baik untuk pemakai.
Kita tunggu saja, bagaimana Zoom dapat menyelesaikan masalah security ini di tengah melejitnya popularitas mereka.

No comments:
Post a Comment