Menikmati Aksi Wayang dengan Bahasa Milenial - TOGEL ONLINE TERPERCAYA

Breaking

Sunday, October 27, 2019

Menikmati Aksi Wayang dengan Bahasa Milenial

Menikmati Aksi Wayang dengan Bahasa Milenial

Hasil gambar untuk wayang bahasa milenial


Menyaksikan peragaan wayang untuk seorang milenial di Jakarta dapat jadi menjemukan sebab durasi yang panjang dan tantangan bahasa. Namun urusan tersebut tidak terjadi saat Wayang Bocor tampil,


Tadi malam, Wayang Bocor asuhan Eko Nugroho pentas di dia.lo.gue Artspace Kemang Jakarta Selatan dalam acara Royo-Royo yang diselenggarakan oleh Yayasan Kelola, lembaga nirlaba yang berfokus pada seni dan kebiasaan Indonesia.



Dalam acara penggalangan dana itu, Kelola mengundang Eko yang pernah menjadi penerima hibahnya pada 2008 guna pentas dan unik minat pengunjung dengan pertunjukan bertema "Permata di Ujung Tanduk".


Wayang Bocor yang telah eksis semenjak 2007 mengindikasikan pentas wayang dengan teknik yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya, menggeser pakem tradisional, inklusif, pun adaptif dengan pemirsa dari generasi serta latar belakang yang beragam.

Kesan penampilan wayang yang pernah disaksikan para orang tua saat malam Minggu dulu -entah di TVRI atau Taman Mini Indonesia Indah-, semalam suntuk, mengusung cerita Mahabarata atau Ramayana, memakai bahasa Jawa, dan tak tidak tidak tidak sedikit atraksi, luntur saat tim asuhan Eko beraksi.


Tak terdapat panggung. Hanya ada sebanyak layar yang tersebar di sekian tidak tidak banyak sisi ruangan, pasti dengan layar utama di sisi depan yang telah dikuasai sang Dalang di baliknya.


Penonton menonton Wayang Bocor laksana di era keraton dulu kala, dari segi bayangan, bukan menonton Dalang atraktif memainkan wayangnya laksana yang kerap diperlihatkan di televisi.


"Saya ini pelukis, saya suka visual dan saya amat suka wayang, namun bukan yang sarat warna tetapi yang hitam-putih, yang belakang [bayangan]," kata Eko saat didatangi usai pentas,


"[Aksi Wayang Bocor] sering kali dinamis dan bisa macem-macem. Cair dengan tidak tidak banyak elemen. Kesenian apa pun diterima oleh kami," kata Eko.


"Kesenian guna kami merupakan cair, menyenangkan, dan jadi pesan untuk seluruh orang lewat bahasa seni. Ketika semua orang senang, lucu-lucuan, tiba-tiba ada sentilan, itu yang berkeinginan kami tawarkan," kata Eko yang kemudian mengatakan bisa saja format penampilan berganti di kemudian hari.


Namun tak semua pertunjukan Wayang Bocor dari Eko mendobrak pakem.


Sejumlah bagian dari penampilan wayang secara tradisional masih dipertahankan, seperti bagian pengantar dengan gunungan dan bahasa Jawa, hingga babak Panakawan yang menunjukkan trio Gareng, Petruk, dan Bagong.

Sesuai pakem, trio kesatria anak Semar tersebut memperlihatkan dialog humor soal kehidupan sehari-hari masyarakat, menghibur tetapi pun menyerahkan nasihat.



Tapi Eko masih memberikan unsur adaptasi dalam sesi klasik ini. Ia dengan iseng memberikan tambahan aksesori bulatan halo berwarna hijau dan ditempatkan di kepala masing-masing Panakawan.

"Itu [Gareng, Petruk, dan Bagong] wayang klasik sebenarnya, tetapi bagaimana kami kasih adaptasi sehingga ada daya tarik, daya ganggu, lain. Kesenian merupakan daya ganggu, ketika lihat visualnya, ini sudah buat ketawa," kata Eko.



"Sebenarnya ini akan lebih lucu bila pentas di daerah, sebab memakai bahasa mereka. Di situ, pesannya akan sangat kuat. Jadi kami mencoba beradaptasi karena kami berkeinginan berkomunikasi," lanjutnya.



Eko Nugroho sangat tidak sukses berkomunikasi dengan milenial ibu kota dengan perlengkapan komunikasi generasi lawas yang nyatanya, bisa 'nyambung' dengan generasi kekinian lewat Wayang Bocor



Dalam pertunjukan sekitar 45 menit Sabtu (26/10) malam, Eko mengusung kisah yang diadaptasi dari cerita pendek puisi karya Gunawan Maryanto, 'Sakuntala'.



Secara garis besar, kisahnya menceritakan siklus penderitaan wanita dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang menjadi pihak dengan posisi yang lemah dan terjebak dalam pilihan sulit yang memaksa mereka untuk berkorban.


Hal itu terlihat dari narasi hidup Sakuntala dalam pentas Wayang Bocor, sudah dibuang oleh ibunya sejak bayi, diasuh oleh pihak asing, ketika dewasa menikah dengan pria penguasa, namun dalam perjalanannya ia menghadapi masalah yang memaksa dirinya membuang sang anak.


Eko mengemas problem sosial itu dengan narasi pertunjukan yang menggugah perasaan, mengocok perut, sampai dapat menciptakan pemirsa ikut bernyanyi dan berjoget. Sebuah kiat yang amat tidak biasa untuk pertunjukan wayang.


Bukan hanya itu, Eko dan tim Wayang Bocor menggunakan bahasa yang adaptif terhadap penonton. Dalam hal ini merupakan penonton ibu kota, ada sejumlah prokem anak muda metropolitan yang digunakan, salah satunya "keles" yang bermakna "kali" dalam hal menyungguhkan.

No comments:

Post a Comment