WHO Peringatkan, Virus Corona Mungkin Tak Akan Hilang Meski Ada Vaksin - TOGEL ONLINE TERPERCAYA

Breaking

Thursday, May 14, 2020

WHO Peringatkan, Virus Corona Mungkin Tak Akan Hilang Meski Ada Vaksin



WHO Peringatkan, Virus Corona Mungkin Tak Akan Hilang Meski Ada Vaksin


Shutterstock/Alexandros Michailidis

Direktur kedaruratan WHO, dr Mike Ryan, memperingatkan bahwa virus corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 barangkali tak bakal pernah hilang walau nanti terdapat vaksin.

Kalau juga nanti telah ada vaksin guna melawan Covid-19, itu bermanfaat untuk mengendalikan virus. Bukan guna menghilangkan virus dari muka Bumi.

Hingga Kamis (14/5/2020), lebih dari 4,3 juta orang di semua dunia terinfeksi virus corona baru. Dari permasalahan yang terdaftar itu, nyaris 300.000 orang di antaranya meninggal dunia dampak Covid-19.

"Penting diketahui, virus (corona baru) ini dapat menjadi virus endemik yang terdapat di masyarakat, dan virus ini barangkali tidak bakal pernah hilang," ungkap Ryan dalam konferensi pers virtual dari Jenewa, Rabu (13/5/2020).

HIV belum hilang. Dan sekarang kita berhadapan dengan virus corona," imbuhnya seperti dikutip BBC, Kamis (14/5/2020).

Ryan sendiri menyatakan tidak percaya pada siapapun yang menciptakan prediksi kapan penyakit Covid-19 bakal hilang.

"Saya tidak percaya pada siapa juga yang dapat menebak kapan penyakit tersebut (Covid-19) bakal hilang," ungkapnya seperti dikutip Science Alert, Kamis (14/5/2020).

Sejauh ini terdapat lebih dari 100 vaksin potensial yang masih dalam pengembangan. Jika hendak vaksin sukses menghilangkan virus, perlu upaya besar.

"Kami mempunyai harapan besar, andai menemukan vaksin yang paling efektif, vaksin tersebut dapat didistribusikan ke seluruh orang di dunia. Dengan itu, kami barangkali memiliki peluang untuk menghilangkan virus ini," ujar Ryan.

"Namun, vaksin tersebut harus terdapat dan mesti paling efektif. Vaksin tersebut harus terdapat dan dipakai semua orang".

Banyak misal yang mengindikasikan vaksin tidak dapat menghilangkan virus penyakit, namun 

mengendalikan atau menangkal penularan.

Sebagai contoh, vaksin campak dan rubella (MR) telah diperkenalkan semenjak 1963. Namun sampai saat ini, masih terdapat orang yang terkena campak bila tidak divaksin.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus juga menekankan pengendalian virus corona diperlukan upaya paling besar.

"Semua orang mesti berkontribusi guna menghentikan pandemi ini," kata Tedros.

Pernyataan keras WHO ini menyusul sejumlah negara yang telah mulai mengerjakan pelonggaran lockdown, dan semua pemimpin yang mempertimbangkan kapan dan bagaimana membetulkan perekonomian di negara masing-masing.

Tedros memperingatkan, dengan melonggarkan kepandaian seperti lockdown atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akan merangsang gelombang infeksi kedua.

"Banyak negara mulai mengerjakan pelonggaran. Namun rekomendasi kami (WHO) ialah tetap waspada. Negara mana juga harus mempunyai tingkat kewaspadaan setinggi mungkin," kata Tedros.

Sebelumnya, beberapa berpengalaman Indonesia menuliskan situasi Indonesia usai pandemi akan menginjak fase the new normal.

Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono menegaskan usai pandemi Covid-19, baik secara global maupun eksklusif Indonesia, situasi tidak bakal kembali laksana pra-pandemi.

"Kita tidak bakal kembali ke kondisi Indonesia laksana sebelum pandemi yang anda dulu normal. Kita akan mengarah ke Indonesia baru yang berbeda," kata Pandu dalam diskusi daring bertema "Mobilitas Penduduk dan Covid-19: Implikasi Sosial, Ekonomi dan Politik", Senin (4/5/2020).

Maksud dari new normal yang dilafalkan Pandu terlukis dari tidak sedikit aspek. Mulai dari kehidupan sosial, kesehatan, ekonomi, psikologis, dan beda sebagainya.

"Dulu yang anda anggap normal, ternyata tidak siap dalam menghadapi pandemi yang laksana ini. Kita mesti mengarah ke Indonesia yang baru yang bertolak belakang atau dinamakan new normal. Apakah anda akan normal laksana masa lalu? Berkerumun, berkumpul-kumpul, pergi ke restoran, dapat melakukan pekerjaan arisan, halal bihalal, atau yang lain, barangkali tidak laksana itu. Seperti apa nantinya, anda gak tahu," imbuhnya.

Pandu menyebutkan setidaknya ada beberapa rekomendasi untuk mempersiapkan new normal di Indonesia.
1. Mitigasi kesehatan masyarakat dan sosial, ekonomi, serta psikologis

Dalam tahapan kesatu ini, pemerintah bareng penduduk mesti tetap mengkhususkan public health atau kesehatan masyarakat.

Di samping itu, masalah sosial, ekonomi dan psikologis butuh dipersiapkan mitigasinya sejak ketika ini.

2. Perkuat resilien komunitas
Tidak jauh berbeda dari sebagian aspek dalam mitigasi di atas. Resilien komunitas berarti kita harus memperkuat kultural komunitas.
Kultural atau budaya yang baik dari komunitas di masyarakat baik lokal maupun skala besar akan berkaitan juga dengan kehidupan sosial Indonesia usai pandemi.
3. Pelepasan pembatasan sosial dan pemulihan yang bertahap

Menurut Pandu, pemerintah bisa melakukan pelepasan pembatasan sosial secara bertahap, karena tidak mungkin untuk dilepaskan sekaligus.
Pembatasan sosial yang dilepaskan bertahap ini juga seiring dengan pemulihan yang bertahap.


Menurut Pandu, pemerintah bisa melakukan pelepasan pembatasan sosial secara bertahap, karena tidak mungkin untuk dilepaskan sekaligus.
Pembatasan sosial yang dilepaskan bertahap ini juga seiring dengan pemulihan yang bertahap.
4. Reformasi struktural
Dijelaskan Pandu, reformasi struktural perlu dilakukan untuk merespon cepat mengatasi krisis kesehatan dan menuju ekonomi baru.
"Untuk itu kita harus siap melakukan berbagai perubahan birokrasi, struktural belajar dari penanganan pandemi ini," jelasnya.
5. Memasuki Indonesia baru
Pada langkah ini, merupakan implikasi dari langkah-langkah lain yang saling berkaitan tersebut dapat dilakukan dengan semaksimal dan seoptimal mungkin.
"Maka kita siap memasuki Indonesia baru," kata dia.

No comments:

Post a Comment