Kisah Viral Orang-orang Papua Buta Huruf Ditipu Pedagang, Diberi Sarden Kedaluwarsa
Kisah yang terjadi di Papua ini begitu menyayat hati hingga yang membacanya rata-rata merasakan kesedihan yang sama dengan penulis cerita ini.
Lewat akun Instagram @merawatpapua kisah itu dibagikan seorang yang sehari-harinya menjadi guru di sebuah rumah belajar di Papua. Cerita ini kemudian viral setelah disebar kembali oleh @hardewiputri di Twitter yang kini telah disukai lebih dari 40 ribu warganet.
Awalnya, @merawatpapua bercerita bahwa ketika ia tengah berada di Wamena, ia sempat bertemu dengan seorang bapak ketika ingin membeli sekaleng ikan sarden. Namun, ketika melihat tanggal kedaluwarsa yang tertera, ternyata sarden itu sudah tidak layak konsumsi sehingga ia meminta untuk ditukar.
Bapak di sebelahnya pun bingung mengapa ia meminta sarden itu ditukar. Setelah dijelaskan bahwa ikan itu sudah melewati tanggal layak konsumsinya, si bapak meminta tolong untuk dicek tanggal pada kaleng yang telah dibelinya. Ternyata, ikan sarden itu juga sudah kadaluarsa sehingga ia meminta untuk ditukar juga.
Setelah si bapak pergi, sang penjual menegur @merawatpapua. "Kalau mau komplain jangan di depan mereka," tegur pemilik. Mereka yang dimaksud adalah orang-orang Papua asli.
Kemudian, kedua kalinya terjadi ketika ia menjumpai seorang bapak yang menjual TGC seberat 10 kilogram, namun hanya dibayarkan senilai 7 kilogram oleh pembelinya. ]TGC merupakan jenis kayu gaharu yang populer dibuat menjadi gelang di Papua.
Peristiwa serupa juga terjadi ketika tetangganya mengunjungi kediamannya setelah baru saja pulang dari pasar. Ketika tengah mengobrol dan berbagi rumor hangat alias gosip, tetangganya itu kemudian iseng menaruh beras yang baru saja dibelinya di atas timbangan yang ada di rumah @merawatpapua.
"Beratnya berapa?" tanya dia. "Satu kilo tujuh ons," jawabnya.
"Apa artinya?"
"Artinya beras tidak sampai dua kilo."
Mendengar hal itu, tetangganya kemudian marah besar. Pasalnya, ia membayar untuk beli beras sebanyak 2 kilogram. Lantas, ia segera kembali ke toko dan komplain pada si penjual.
Namun keesokan harinya, penjual tersebut justru menegur @merawatpapua. "Tidak usah ajar-ajar dia orang, dia orang selama ini buta huruf, tidak tau baca tidak tau berhitung, apalagi timbang menimbang."
Ketika diomeli, ia hanya diam saja untuk menghindari perselisihan lebih lanjut. Menurutnya, masyarakat Papua yang buta aksara seringkali ditipu, baik oleh para pengusaha, pejabat, bahkan kepala desanya sendiri.
Berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, per 2018 masih ada enam provinsi di Indonesia dengan angka buta aksaranya lebih dari empat persen. Papua menempati peringkat pertama dengan persentase 22,88 persen penduduknya masih buta huruf.
Sementara itu, lima provinsi lainnya adalah Nusa Tenggara Barat (7,51 persen), Nusa Tenggara Timur (5,24 persen), Sulawesi Barat (4,64 persen), Sulawesi Selatan (4,63 persen), dan Kalimantan Barat (4,21 persen).
Untuk mengatasi hal ini, Kemendikbud memiliki program pendidikan keaksaraan yang dibagi menjadi dua yaitu pendidikan keaksaraan dasar dan lanjutan.
Pendidikan keaksaraan dasar bertujuan sebagai layanan pendidikan bagi orang dewasa usia 15 tahun ke atas yang buta aksara latin agar memiliki kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, berbahasa Indonesia, dan menganalisa. Sedangkan pendidikan keaksaraan lanjutan untuk mengembangkan kompetensi bagi warga masyarakat pasca pendidikan keaksaraan dasar. Informasi selengkapnya dapat dibaca
Menanggapi kisah di atas, banyak netizen yang kecewa dengan warga Papua yang memanfaatkan isu tersebut untuk keuntungan pribadi.

No comments:
Post a Comment