Haruskah Kita Berteman dengan Mantan? Begini Kata Ahli
Ketika hubungan dengan pasangan berakhir, tidak sedikit orang yang langsung memilih putus kontak dan putus hubungan sama sekali. Namun, ada sejumlah orang yang masih mempertimbangkan guna menjalin hubungan dua-duanya sebagai teman.
Mereka berjuang melupakan masa lalu dua-duanya dan ingin melihat ke depan. Bukannya tanpa risiko, teknik yang kedua ini menciptakan orang sulit move on. Tak dimungkiri, tidak sedikit orang yang merasa sakit saat memutuskan berteman dengan mantan. Lalu, manakah yang baik sebenarnya?
Dalam kondisi apa juga seharusnya hubungan yang tidak abusif, manipulatif, atau beracun pulang menjadi persahabatan, kata Sussman untuk Time. Namun, andai hubunganmu secara umum sehat dan tidak berhasil, anda mungkin ingin beranggapan dua kali guna mempunyai hubungan pertemanan.
Studi tahun 2000, misalnya, mengejar bahwa persahabatan antarmantan lebih ingin mempunyai kualitas negatif daripada persahabatan platonik antarjenis kelamin pada umumnya.
Sussman pun mengatakan terdapat potensi kerugian guna tetap bersahabat dengan mantan. "Kadang-kadang tersebut akan menahanmu guna mempunyai hubungan baru," dia memperingatkan.
Kemudian, Ashley Brett, seorang psikolog untuk Time menuliskan bahwa hubungan berteman dengan mantan tidak bakal benar-benar lepas dari hubungan romantis. Brett menambahkan bahwa berulang kali berpulang kepada pertemanan membuatnya dapat menghilangkan rasa sakit dari masing-masing perpisahan-yang barangkali tampak laksana strategi yang baik, tetapi sebetulnya dapat menangkal diri sendiri tumbuh di masa depan.
Satu studi, yang diterbitkan pada tahun 2013 di PLOSOne, mengejar bahwa "putusnya desakan dapat beraksi sebagai katalis untuk perkembangan pribadi," seraya menghindari kesulitan tersebut dapat menghambat proses pengembangan diri.
Oleh sebab itu, dari keterangan para berpengalaman ini, berteman dengan mantan kelihatannya bukan sesuatu yang mesti anda pertimbangkan.

No comments:
Post a Comment