Teater Perpisahan Terpanas Jean Paul Gaultier.

Enam hari yang kemudian (17/1), couturier kenamaan Jean Paul Gaultier memberitahukan bahwa show haute couturenya kali ini bakal menjadi yang terakhir.
Gaultier pensiun. Mencengangkan? Tentu. Alasannya, ia bukan lagi setuju dengan system dunia fesyen, di mana -menurutnya- ritme musiman yang yang terlampau cepat sehingga menimbulkan produk dan sampah yang terlampau banyak, sampai turunnya standar serta kualitas fesyen. Namun dia berjanji, bakal ada kejutan baru darinya.
Hanya saja sampai berita ini diturunkan, belum terdapat konfirmasi rencana Jean Paul Gaultier ke depan.
'Salam perpisahan' Gaultier pun dirasakan menjadi tiket terpanas di musim ini. Shownya menjadi peragaan sangat dinanti, tidak sedikit orang berebut menemukan 'golden ticket.'
Bukan hanya sebagai show akhir, show ini sekaligus menandai 50 tahun ia berkarya di dunia fesyen. Dua momen besar yang menandai perjalanan karier Gaultier. Bagaimana dapat melewatkan untuk dapat jadi unsur di dalamnya?
Biasanya, show Jean Paul Gaultier selalu diselenggarakan di ateliernya di Rue St. Martin, Paris. Gaultier ialah satu-satunya desainer kontemporer yang menyelenggarakan show di lokasinya sendiri, di samping mendiang Azzedine Alaia.
Namun kali ini, ia memilih Théâtre du Châtelet, suatu teater klasik di tengah kota Paris. Bisa ditebak, kekacauan terjadi di pintu masuk, orang-orang mengupayakan merangsek masuk ke dalam gedung teater; mahasiswa sekolah fesyen, fotografi, sampai fashionista bercampur dengan semua selebriti dan jurnalis yang hadir.
Dengan keterlambatan selama 45 menit, show ini dibuka dengan penampilan dari Boy George, dengan lagu Back to Black karya Amy Winehouse, dengan dikelilingi
penari latar dan diiringi semua model berkostum hitam yang mengusung suatu peti mati berwarna hitam. Model asal Meksiko Issa Lish terbit mengenakan dress putih.
Para undangan langsung bertepuk tangan. Di antara tamu yang hadir ialah couturier yang memberinya kegiatan kesatu kali, Pierre Cardin, serta desainer Nicholas Ghesquiere dan Christian Lacroix.
Mantan ibu negara Prancis yang pun mantan model Carla Bruni-Sarkozy serta biduan Anggun C. Sasmi pun nampak di deretan penonton. Bagi koleksi pamungkasnya ini, Jean Paul Gaultier membuka kembali dokumentasi karyanya sekitar 50 tahun dengan konsep upcycling.
Show yang dilangsungkan selama lebih dari satu jam ialah sesuatu yang langka. Namun, Jean Paul Gaultier mengemas show ini laksana sebuah peragaan teater, di mana masing-masing tema dikelompokkan menurut keterangan dari tema-tema favoritnya: jeans, korset, seragam pelaut Bretton, dan androgini.
Satu demi satu exit ditampilkan, dan gemuruh tepuk tangan tidak jarang kali menandai masing-masing model familiar yang beraksi: Pandemonia dengan gaun latex dan rok balonnya menyeluruh dengan sang anjing balon Snowy, Rossy de Palma yang mengenakan gaun tulle berpayet, Coco Rocha yang menari tarian céilà Irlandia yang diiringi lagu rap, Beatrice Dalle yang mengenakan atasan off-shoulder lengan panjang berkorset hitam sambil mengisap rokok di atas runway.

No comments:
Post a Comment