Di Bank Ini Hampir Seluruh Nasabah dan Pegawainya Perempuan, Kok Bisa?

Menjelang Tahun Baru Imlek, sekitar tiga miliar penduduk China diperkirakan akan mudik ke kampung halaman. Ritual ini menjadi proses migrasi manusia terbesar di dunia, di tengah ancaman merebaknya virus corona yang menyebabkan pneumonia jenis baru.
Seperti dilansir Associated Press, Jumat (17/1), Kementerian Perhubungan China mengatakan warga yang ingin mudik menggunakan moda transportasi kereta api dan pesawat melonjak tajam sebelum perayaan Imlek yang jatuh pada 25 Januari.
Kendati demikian, pemerintah China saat ini juga sedang mengantisipasi merebaknya wabah pneumonia di kawasan tengah. Sampai saat ini tercatat ada 41 orang terpapar virus corona di Kota Wuhan.
"Meluasnya penyebaran virus tersebut kemungkinan bisa menyebabkan di antara masyarakat, terutama di daerah yang akan dipadati masyarakat dalam Festival Musim Semi," kata pakar dari Kementerian Perhubungan China, Wang Yang.
Wang mengatakan mereka akan menempatkan alat pindai suhu tubuh di setiap bandara, stasiun dan terminal untuk mencegah penyebaran virus itu semakin meluas.
Sudah dua orang meninggal akibat terjangkit virus tersebut.
Puncak masa mudik diperkirakan antara 10 Januari sampai 24 Januari. Sedangkan masa arus balik kemungkinan akan terjadi sampai 18 Februari.
Seperti di Indonesia, mudik saat Imlek akan menjadi ajang reuni keluarga baik bagi mereka yang bekerja di kota besar atau di luar negeri.
"Kami ada 12.000 karyawan di seluruh Indonesia. Termasuk community officer, 97 persennya perempuah. Kemudian 100 persen community officer ini lulusan SMK dan SMA. Ini statistik yang aneh," ujar Ratih ketika menjadi pembicara pada KOMPAS100 CEO Talk di Menara Kompas, Jumat (17/1/2020).
"Kemudian nasabahnya juga accumulatively 5,2 juta seluruhnya perempuan," ujar dia.
Ratih menjelaskan, pembiayaan keluarga pra sejahtera tersebut masuk ke dalam kategori ultra mikro dengan pinjaman mulai dari Rp 1,5 juta hingga Rp 50 juta.
Segmen tersebut menurutnya telah dijajaki perusahaan sejak tahun 2009, kala itu BTPS masih berbentuk unit usaha syariah (UUS) yang tergabung dalam induk yakni PT Bank BTPN Tbk.
Dari 5,2 juta debitur tersebut, saat ini ada 3,5 juta yang masih aktif dan tersebar di 22 provinsi di Indonesia.
"Jadi untuk nasabah yang sudah tidak aktif itu antara mereka sudah migrasi atau memang sudah nggak butuh pinjaman," ujar Ratih.
Ratih pun mengakui, mengelola pembiayaan ultra mikro memang berisiko tinggi. Oleh karena itu, dia mengedepankan prinsip kehati-hatian dengan menyalurkan pembiayaan secara berkelompok yang isinya adalah ibu-ibu dengan jumlah anggota lima hingga enam orang.
Sebab berdasarkan analisa perusahaan, debitur perempuan khususnya ibu rumah tangga punya tanggung jawab dan kemampuan mengelola keuangan yang lebih prima.
Uniknya, seluruh pendanaan pembiayaan tersebut, diperoleh dari nasabah dana pihak ketiga (DPK) perseroan yang jumlahnya hanya sebanyak 25.000 orang. "Kami satu-satunya bank yang fokus layani keluarga pra sejahtera, dengan pendanaan dari keluarga sejahtera," tuturnya.
Ratih mengatakan, sebagian besar pegawai di perusahaannya perempuan karena untuk mengakomodir kebutuhan nasabah.
Karena segmen nasabah yang hampir seluruhnya ibu-ibu maka dibutuhkan pula tenaga kerja yang mampu membimbing dan memahami kebutuhan para nasabah tersebut.
Para community officer yang direkrut pun sebisa mungkin berdomisili di lokasi-lokasi tempat nasabah berasal. Biasanya mereka lulusan SMA atau SMK lokal yang dalam bekerja dipimpin oleh ketua tim yang lulusan universitas lokal pula.
Satu tim 5 sampai 6 orang, pemimpinnya biasanya D3 atau S1 local university, tapi punya kualitas. Pemimpin dan anggota tim either lulusan SMA atau SMK, dan harus perempuan juga. Karena ini anak-anak lokal harus bekerja melayani ibu-ibu pra sejahtera lokal," ujar dia.
Nantinya, community officer-lah yang akan menentukan apakah kelompok ibu-ibu yang terbentuk tersebut layak atau tidak untuk diberi pembiayaan. Selain itu, mereka juga bertanggung jawab untuk memberi pelatihan

No comments:
Post a Comment