David Bowie, Indonesia, dan Wasiat Tabur Abu Kremasi di Bali.

Kala mengembuskan napas terakhirnya pada 10 Januari 2016 silam, David Bowie tak melulu meninggalkan warisan lagu-lagu legendaris, tapi pun jejak kecintaannya terhadap Indonesia.
Dunia mulai menyaksikan jejak tersebut pada 1992, saat Architectural Digest mengeluarkan satu wawancara eksklusif dengan si Ziggy Stardust dengan potret yang langsung menjadi buah bibir.
Bertelanjang dada, melulu berbalut sarung tenun, David Bowie berdiri di depan vila bergaya Indonesia yang ia dirikan di Kepulauan Karibia.
Namun jauh sebelum itu, sebanyak musisi legendaris Nusantara sebetulnya sudah menjadi saksi "ke-Indonesia-an" Bowie, tergolong Fariz Roestam Moenaf.
"David Bowie mah emang Indonesia banget sih dia," ujar Fariz RM ketika berbincang, di sebuah apartemen di bilangan Bintaro, Tangerang Selatan.
Fariz sendiri kesatu kali kenal dengan Bowie saat sedang berangjangsana ke lokasi tinggal musisi sekaligus pebisnis, Setiawan Djodi.
"Setelah itu, tidak jarang ngobrol. Pas lagi ngobrol-ngobrol di lokasi tinggal Djodi, David lagi buat lagu, terus bilang, 'Fariz, elo dapat enggak bikinin syair bahasa Indonesia?' Terus Djodi bilang, 'Udah, anda kerjain aja,'" tutur Fariz.
Musisi yang genap berusia 61 tahun pada 5 Januari ini juga sepakat menolong Djodi mengerjakan lagu tersebut. Ia menerjemahkan sejumlah penggal lirik ciptaan si Ziggy Stardust.
Lagu berbahasa Indonesia tersebut kemudian diluncurkan dalam cakram padat album Black Tie White Noise yang diedarkan eksklusif di domestik pada 1993.
Jauh sebelum lagu tersebut diluncurkan, Bowie pun pernah menyiratkan kecintaannya terhadap Indonesia melewati lagu kolaborasinya dengan Iggy Pop pada 1984.
Berjudul "Tumble and Twirl", lagu tersebut bercerita tentang perjalanannya bertualang di Indonesia. Salah satu penggal liriknya berbunyi, "I've seen the city and I took the next flight for Borneo. They say it's pretty, I like the t-shirts in Borneo."
Setelah itu, Bowie pun pernah menciptakan lagu berbahasa Indonesia bareng Tin Machine yang diluncurkan pada 1991. Bertajuk "Amlapura", lirik nomor itu bercerita tentang di antara pura di Bali.
Di tahun yang sama, Bowie bareng istrinya, Iman Mohamed Abdulmajid, bahkan mengekor upacara Malam Satu Sura di Istana Mangkunegaran bareng Setiawan Djodi.
Berdasarkan keterangan dari Fariz RM, setelah tersebut Bowie kerap menguras waktu di Indonesia. Sebelum meninggal, Bowie bahkan sempat bermukim lama di di antara pulau di unsur timur Nusantara.
Hingga pada akhir hayatnya, Bowie menyebutkan wasiat supaya jasadnya dikremasi di Bali menurut ritual agama Buddha setempat.
"Saya menyuruh eksekutor saya untuk membawa jasad saya ke Bali guna dikremasi di sana cocok dengan ritual Buddha di Bali," demikian bunyi surat wasiat Bowie yang dilansir The Independent.
Surat tersebut kemudian berlanjut, "Jika tidak memungkinkan, maka saya menyuruh eksekutor mengatur supaya jasad saya dikremasi dan abunya ditabur di Bali."

No comments:
Post a Comment