- TOGEL ONLINE TERPERCAYA

Breaking

Sunday, December 15, 2019

Tumpah Ruah 'Guilty Pleasure' dalam Wadah Karaoke Massal

Tumpah Ruah 'Guilty Pleasure' dalam Wadah Karaoke Massal





"Coba kau pikirkan, jajaki kau renungkan. Tanya bintang-bintang melulu kaulah yang kusayaang..." Lirik lagu "DOY" kepunyaan Kangen Band tersebut meluncur dengan fasih dari mulut lautan anak muda masa sekarang yang muncul di Synchronize Festival pada Oktober lalu. Di atas panggung, tampak Oomleo beri panduan karaoke massal itu diiringi penampilan Kangen Band yang diperkuat oleh sang vokalis, Andika Mahesa, dan gitarisnya, Dodhy. Tak terbayangkan sebelumnya, festival pilihan semacam ini mengundang band-band bernapas Melayu dan pemirsa yang hadir dapat menyanyikan lagu-lagu mereka dengan lantang. Tak melulu Kangen Band, pesta rakyat tahunan tersebut juga menggandeng Wali, Radja, dan ST12. Mengusung konsep karaoke, mereka bekerjasama dengan Oomleo, seorang seniman yang dikenal dekat dengan komunitas Ruang Rupa. Meski ada sejumlah pihak yang sempat memandang kehadiran band-band Melayu di Synchronize tidak tepat, namun nyatanya mereka menjadi di antara yang sangat ditunggu. Penonton tumpah ruah. Mereka seolah cuek dengan titel musik "alay" yang ditampilkan, bahkan diam-diam hafal, bahkan lantang bernyanyi. Oomleo sendiri kala tersebut sempat menyindir pemirsa dari atas panggung, "Mampus enggak lo anak-anak indie! Siapa yang dulu hina-hina Inbox? Siapa yang dulu hina-hina Dahsyat?" Dalam peluang berbeda, ia sepakat bahwa penampilan kala tersebut menjadi bukti bahwa karaoke menjadi ajang guna menumpahkan 'guilty pleasure' demi kesenangan. "Tujuannya mereka kan bersenang-senang. Walaupun dalam urusan yang paling guilty pleasure sekali. Guilty pleasure tuh terdapat pleasure-nya loh. Bersalah namun ada rasa senangnya," ujar Oomleo saat mengobrol. "Ada kesukaan yang tidak dapat disembunyikan. Dari hal-hal laksana itu, ketika berdendang dengan lagu yang norak, ya sah-sah saja." Dari karaoke massal ini, ternyata tak melulu penonton yang senang, tapi pun para personel band tersebut sendiri. Oomleo bercerita bahwa sesudah tampil bareng Radja, sang vokalis, Ian Kasela, menumpahkan kegembiraannya. "Ian Kasella sendiri bilang ke gua, 'Oomleo, tak waras nih enak banget bentuk kayak gini dan tidak sedikit banget tawaran yang mohon gua guna jadinya karaoke-an lagi sama lo. Jadi bintang tamu di karaoke lo,'" tutur Oomleo. Dalam wawancara dengan Gofar Hilman di program Ngobam, Oomleo pun mengatakan bahwa penampilan di Synchronize tersebut meninggalkan kesan mendalam untuk band-band Melayu tersebut. "Dia bilang, 'Oomleo, bila lo inginkan tahu, inilah sebetulnya yang gua harapkan. Gua diterima di masyarakat ini.' Wah gila, terharu gua," katanya. Di beda sisi, guilty pleasure ini pun menjadi salah satu hal yang merangsang perkembangan karaoke berkembang dari ruang-ruang privat menjadi ke bar-bar, di mana orang tak saling mengenal. Hal ini juga disetujui oleh Ryo Wicaksono, salah satu empunya bar yang kerap melangsungkan malam karaoke, Duck Down. Menurutnya, pemenuhan guilty pleasure ini datang bersamaan dengan kejenuhan orang dengan acara dengan penampil yang "itu-itu saja." "Begitu jenuh, dicolek gunakan lagu-lagu yang familier atau bahkan guilty pleasure jadinya ketagihan. Dan kayaknya kini orang suka tampil ya. Udah enggak malu-malu lagi, lagipula dengan era sosial media laksana sekarang, seluruh orang punya corong guna menjadi familiar atau menciptakan konten sendiri, jadi udah enggak malu lagi," katanya. Di ranah lain, belakangan hadir pula karaoke yang mengangkat musik-musik emo melewati Emo Night. Gelaran usulan Sobat Indie ini kesatu kali dihelat pada 2016.
Begitu besar antusiasme publik, acara ini sehingga sudah dilangsungkan di Jakarta dan Bandung. Ekky selaku salah satu pelaksana Emo Nite memang mengakui bahwa ada sejumlah kalangan yang memandang musik emo sebagai guilty pleasure. "Mungkin saja (jadi guilty pleasure) buat beberapa orang, tapi andai ya, bikin apa denial atau menjadikannya guilty pleasure? Orang pas nyanyiin lagunya bersama temen-temen lo yang ada hanya 'pleasure' doang bikin lo," katanya. Anggota Sobat Indie lainnya, Rega Ayundya, pun sependapat dengan Ekky. Menurutnya, Emo Night tak tergolong dalam guilty pleasure. "Gua enggak yakin sih emo tersebut guilty pleasure. Gua udah pernah ngerasain karaoke JKT48, K-Pop, dan gua (atau juga orang beda yang datang, gua yakin) enggak pernah menyaksikan ketiganya sebagai guilty pleasure," katanya. Bagi Rega, khalayak suka karaoke massal karena kegiatan ini menghubungkan orang, di mana mereka bisa sekian banyak perasaan melewati lirik lagu yang dinyanyikan. "Apalagi emo, sebab mostly pendengar emo memperhatikan band-band emo saat mereka lagi remaja. Setiap lagu emo tentu represents personal experience atau kenangan mereka. Jadi ya, gua dapat relate bila yang datang ke Emo Night tidak jarang kali sing along dengan kencang seraya bilang, 'Lagu ini gua banget!'" tutur Rega. Menanggapi seluruh perdebatan tentang guilty pleasure ini, Oomleo dalam wawancaranya bareng podcast Agordi Club menuliskan tren karaoke ini menegaskan bahwa karya seni apa juga memang berbobot tinggi. "Musik, visual art, sastra, pendokumentasian tersebut adiluhung. Seorang yang melantunkan, komposer di belakangnya, entah paling murahan atau pasar yang menjadikannya komoditas, bendanya tetap adiluhung. Stratanya tinggi di kebudayaan. Semurah apa pun dapat diapresiasi oleh siapapun," katanya.

No comments:

Post a Comment