Tashoora, Band yang Gemar 'Menghitung' Panggung.

Band Tashoora bukan hadir begitu saja ke permukaan. Seperti pun band-band lain, terlebih yang datang dari daerah, mereka memerlukan usaha tambahan untuk masuk ke industri musik ibu kota.
Meski tampak mulus semenjak 2016 sampai meraih popularitas di 2019, Tashoora menyatakan pernah tampil disaksikan hanya sejumlah puluh orang.
"Kalau mereka tahu anda manggung [tahun] 2017-nya kayak gimana, yang nonton berapa orang. Enggak hingga 30, eh enggak hingga 50 orang," kata Danang sejumlah waktu lalu.
Danang Joedodarmo ialah personel Tashoora. Saat itu, ia hadir bareng Dita Permatas, Gusti Arirang, dan Ikhwan Hastanto alias Awan sebagai anggota teranyar di trafik ke redaksi CNNIndonesia.com.
Awalnya, nama Tashoora dikenal usai merekam ulang lagu Desember yang serta dalam album kompilasi tribut Efek Rumah Kaca. Mereka kemudian kembali ke studio dengan susunan baru sebab Andru Abdullah (trombone) terbit dan masuk lah Gusti Arirang.
Album debut dinamakan rilis pada Agustus 2017. Berdasarkan keterangan dari Tashoora, saat tersebut teman-teman sendiri yang datang untukmemberi dukungan.
"Yang di depan tersebut cuma tiga baris, paling. Dan tersebut wajah-wajah yang telah kita kenal," kata Danang mengingat.
Panggung demi panggung mulai dijelajahi oleh Tashoora yang berasal dari Jogjakarta. Berdasarkan keterangan dari Dita sang vokalis, ketika ini tidak cukup lebih telah 80 panggung menjadi saksi penampilan mereka. Bukan melulu menebak, mereka menyatakan memang tidak jarang kali menghitung jumlah panggung.
"Iya, anda ngitung bikin data. Jadi ini manggung ke berapa, tuh anda post biasanya," ujar Danang, yang tak membantah tindakan tersebut mengundang tanggapan orang.
Perlahan, Tashoora merasa percaya diri guna menjajal Jakarta. Terlebih, mereka telah sejumlah kali mendapat tawaran tampil di festival-festival ruang belajar nasional, laksana Ngayogjazz, Land of Leisures, hingga Java Jazz.
Bagi personel Tashoora sendiri, seluruh tidak terjadi secara instan.
"Satu tahun tiap hari Selasa anda latihan. Jadi ya bila ngomongin cepat [populer], ya elo enggak tahu rasanya 'bonding' di studio," kata Danang.
Kerap menguras waktu di studio musik, Tashoora menyadari punya tidak sedikit kekurangan. Dari video-video penampilan yang dipungut secara live, mereka unik pelajaran.
"Justru karena tersebut ya, sebab kita menyadari bahwa anda ada keterbatasan segala macem, makanya anda ngulik. Tadi, yuk anda coba yuk, anda pikir 'ayo anda nyanyi bareng', terus anda ngulik perangkat segala macem, terus ngulik sistem," tutur Dita.
Semangat 'ngulik' itu seolah memberi kesegaran tersendiri dalam musikalitas Tashoora. Para personel yang sama-sama suka mengorek dan mencari lebih dalam memperkaya wawasan band, tergolong dalam penulisan lirik.
Danang mengaku, mereka hendak membuat lagu yang dapat menyentuh pendengar. Namun dengan jujur, ia menuliskan tak punya kemampuan lumayan untuk itu.
"Mikir sih mikir, hanya skill-nya enggak ada," katanya santai.
Dita kemudian menimpali, "Skill analisis pasar tuh enggak ada."

No comments:
Post a Comment