Putus Rantai Makanan Akibat Perburuan Buat Harimau Agresif - TOGEL ONLINE TERPERCAYA

Breaking

Friday, December 27, 2019

Putus Rantai Makanan Akibat Perburuan Buat Harimau Agresif

Putus Rantai Makanan Akibat Perburuan Buat Harimau Agresif.


Putus Rantai Makanan Akibat Perburuan Buat Harimau Agresif

Maraknya perburuan satwa binal yang menjadi mangsa alami harimau Sumatera ditengarai menjadi di antara penyebab banyaknya insan yang menjadi korban raja hutan itu dalam masa-masa satu bulan ke belakang di Sumatera Selatan.


Rusaknya habitat serta semakin luasnya perambahan di dalam hutan lindung menjadi penyebab-penyebab beda yang menciptakan harimau semakin tersudut di habitatnya sendiri.


Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan Martialis Puspito mengatakan, ketika ini populasi satwa binal yang berada di area hutan lindung di Kesatuan Pengelola Hutan (KHP) Dempo dan Kikim Pasemah semakin berkurang.

Diketahui, KPH Dempo dan Kikim Pasemah menghampar dari Kota Pagar Alam, Kabupaten Lahat, serta Muara Enim. Dua KPH itu menjadi tempat konflik harimau dengan insan belakangan ini.

Meski tidak mempunyai data jumlah pengurangan populasi tersebut, lelaki yang akrab disapa Ito ini mengungkapkan, pihaknya mengejar sejumlah bukti maraknya perburuan satwa binal di dua area tersebut.



"Pada 2016, kita mengejar tujuh offset kepala domba hutan yang telah diawetkan di Desa Rimba Candi. Di Pagar Alam masing-masing minggu terdapat perburuan babi hutan. Itu yang anda temukan, yang tidak ketahuannya banyak," ujar Ito, Jumat (13/12).



Satwa binal yang menjadi mangsa harimau di area tersebut ketika ini, kata Ito, ialah babi hutan, domba hutan, kijang, dan rusa. Seluruh satwa itu menjadi sasaran perburuan manusia. Akibatnya, rantai makanan dengan harimau Sumatera sebagai puncak pemangsa terganggu. Ekosistem di dalam habitat itu pun terganggu.



Di samping perburuan, perambahan binal yang dilaksanakan masyarakat pun menciptakan harimau semakin terdesak. Kawasan hutan lindung yang bermanfaat sebagai habitat satwa liar, pulang menjadi perkebunan dengan segala pencemaran yang dilaksanakan oleh manusia.

"Daya jelajah harimau sehari dapat 20 kilometer, tersebut dalam situasi normal. Kalau menggali mangsa susah, dia disorientasi. Terdesak dan habitatnya terhimpit sampai akhirnya dapat 40 kilometer masing-masing hari demi menggali makan. Makanya resiko perjumpaan dengan manusianya jadi lebih tinggi. Orang ini telah dikasih nasi, masih mengejar makanan makhluk lain," kata dia.



Di samping itu, pihaknya juga belum dapat mengidentifikasi apakah pribadi harimau tersebut merasakan cedera psikologis atau tidak. Dirinya berujar, dapat jadi harimau itu pernah mempunyai sejarah terpapar jerat atau terluka sampai-sampai perangainya menjadi lebih agresif.



"Kita pasang kamera trap di tempat jatuh korban tewas kesatu di Desa Pulau Panas, Lahat itu, belum terdapat hasilnya. Kamera tidak menciduk penampakan harimau. Yang di Dempo pun belum terdapat hasil," ujar Ito.



Pihaknya juga telah menyerahkan saran untuk Pemerintah Kota Pagar Alam guna mengevaluasi tata kelola area wisata di dekat KPH Dempo. Saat ini, tidak sedikit objek wisata yang sedang di dalam area hutan yang adalahhabitat harimau.



Seperti Tugu Rimau, jalur pengungsian di Gunung Dempo yang tidak sedikit dijadikan sebagai jalur pendakian, di mana tidak sedikit bangunan semipermanen yang dimanfaatkan sebagai warung. Peringatan bahwa area tersebut adalahkoridor jelajah harimau juga tidak dihiraukan oleh masyarakat.


"Bahkan ada buaian dan spot selfie di Tugu Rimau itu. Kawasan vila, masih jauh di luar jadi resiko perjumpaannya kecil. Di Kampung 4 yang adalahpintu pemanjatan Gunung Dempo, terdapat jejak pun di situ. Meraung-raung dia kemarin di situ. Tapi pribadi harimau yang di situ tidak terlampau agresif," tambah Ito.


Sementara itu, Kapolres Lahat Ajun Komisaris Besar Ferry Harahap mengimbau untuk masyarakat guna tidak terus mengerjakan perambahan di hutan lindung sebab akan merusak hutan dan menciptakan harimau semakin agresif.


"Kami yakin masih tidak sedikit masyarakat yang merambah hutan lindung dan menjadikan kebun kopi. Ini seluruh terjadi dibuka dari ketidakpatuhan anda terhadap aturan dan alam dengan merusak habitat satwa liar," ujar dia.Ferry berujar, tiga peristiwa konflik harimau dengan insan yang menelan korban di Lahat dan Pagar Alam seluruhnya terjadi di hutan lindung yang adalahhabitat harimau. Berdasarkan hasil olah TKP juga pihaknya menemukan bukti adanya pencemaran hutan lindung dengan merambah hutan guna dijadikan kebun kopi.



Ke depan, pihaknya bareng BKSDA terus mengerjakan sosialisasi dan pendidikan terhadap masyarakat supaya tidak melakukan kegiatan di dalam hutan lindung. Pihaknya juga sosialisasi bahwa masyarakat dilarang guna melukai, membunuh, atau bahkan dengan sengaja mengejar harimau.



"Kecuali dalam situasi terdesak untuk mengayomi nyawa, boleh guna dilumpuhkan. Tapi bila tidak, anda melanggar hukum dan bisa dituntut sanksi pidana. Kita bakal bersinergi dengan pemerintah dan seluruh pihak untuk menuntaskan permasalahan ini," kata Ferry.

No comments:

Post a Comment