Ekshibisionisme, Penyimpangan Seksual yang Bisa Terjadi Berulang.
Kasus ekshibisionisme, yang termasuk kelompok penyimpangan seksual, pernah terjadi sebulan lalu. Contohnya, seorang lelaki di Tasikmalaya, Jawa Barat yang membuang air mani untuk korban perempuan pada 13 November 2019.
Pelaku pun mengakui, mengerjakan tindakan tersebut untuk lima korban lainnya.
Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Alvina menjelaskan, ekshibisionisme tersebut penyimpangan seksual (sexual deviation) yang ditandai perilaku menunjukkan alat kelamin seseorang pada orang lain.
"Penyimpangan seksual ini memang dapat berulang kali dilakukan. Perilaku seringkali dilatarbelakangi adanya angan-angan dan desakan seksual yang kuat. Ini terjadi dalam periode masa-masa enam bulan," jelas Alvina melalui penjelasan tertulis yang diterima.
“Sama laksana gangguan jiwa lainnya, ekshibisionisme dapat terjadi sebab interaksi hal biologis (gen), psikologis (kondisi psikologis orang yang bersangkutan), dan sosial (pola asuh dan lingkungan)."
Bagi seseorang yang didera ekshibisionisme, ia memerlukan terapi. Upaya ini mencegah supaya orang yang terkait tidak mengerjakan tindakan itu berulang.
"Untuk terapi berupa memadukan psikofarmaka (obat) dengan psikoterapi. Tentunya, mesti dilaksanakan evaluasi menyeluruh, apakah terdapat gangguan jiwa beda yang pun memerlukan terapi dalam format lainnya,” jelas Alvina, yang keseharian berpraktik di RS Awal Bros Bekasi Barat.
Penyakit ini tergolong gangguan jiwa di bawah payung gangguan parafilia--penyimpangan seksual. Tidak terdapat ciri-ciri spesifik yang menandakan penderita ekshibisionisme (ekshibisionis).

No comments:
Post a Comment