5 Fakta Unik Fenomena Gerhana Matahari Cincin 2019 - TOGEL ONLINE TERPERCAYA

Breaking

Thursday, December 26, 2019

5 Fakta Unik Fenomena Gerhana Matahari Cincin 2019

5 Fakta Unik Fenomena Gerhana Matahari Cincin 2019.


5 Fakta Unik Fenomena Gerhana Matahari Cincin 2019

 Gerhana Matahari Cincin (GMC) akan terjadi pada 26 Desember 2019. Ini merupakan gejala yang terjadi ketika bayang-bayang Bulan melulu menutupi unsur tengah Matahari, sampai-sampai menyisakan format cicin api di sekeliling bayang-bayang Bulan.

Dilansir dari tulisan yang diciptakan Peneliti Senior Planetarium dan Observatorium Jakarta Widya Sawitar, fase Bulan berulang rata-rata 29,5 hari. Namun, gejala gerhana Matahari tak tidak jarang kali terjadi ketika Bulan mati.

Kedudukan Matahari dekat titik nodal (titik potong khayali di langit, di mana orbit Bulan tepat mencukur ekliptika yaitu bidang edar orbit Bumi ketika mengelilingi Matahari) dinamakan musim gerhana yang berulang 173,3 hari. Berikut sejumlah kenyataan unik berhubungan Gerhana Matahari Cincin.

1. Berulang tiap 18 tahun



Kombinasi periode ini berulang masing-masing 18 tahun 11,3 hari yang dinamakan periode Saros. Jika musim gerhana kesatu di bulan Januari, maka gerhana Matahari bisa terjadi sejumlah lima kali dalam satu tahun. Sebab, total borongan jenis gerhana per tahun melulu tujuh kali.

2. Gerhana Matahari Cincin Bakal Kembali Sambangi Indonesia 2031


Sebelumnya, Gerhana Matahari Cincin sempat menyambangi Indonesia pada 22 Agustus 1998 di Sumatera Utara dan Kalimantan Utara dan GMC 26 Januari 2009 jalur cincin melalui Sumatera Selatan dan Kalimantan.

BMKG juga mengungkap GMC bakal kembali 'mampir' 12 tahun kemudian, tepatnya 21 Mei 2031 dan jalur cincinnya akan melalui Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. 12 tahun berikutnya, GMC pulang lagi pada 14 Oktober 2042 melalui Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Lihat juga: Nasib Jabodetabek ketika Gerhana Matahari Cincin 26 Desember

3. Ada 4 Fenomena Gerhana Sebelum GMC


Sebelum GMC, Sawitar mengungkapkan terdapat empat gejala gerhana yang terjadi yakni Gerhana Matahari Sebagian (5-6 Januari 2019), Gerhana Bulan Total (21 Januari 2019) dan Gerhana Matahari Total (17 Juli 2019) yang tidak dapat diamati di Indonesia serta Gerhana Bulan Sebagian (17 Juli 2019) yang dapat dicermati di Indonesia.

GMC tahun ini berada dalam kelompok siklus Saros 132 yakni gerhana ke-46 dari total 71 kali gerhana, semenjak kesatu kali terjadi pada 13 Agustus 1208. GMC ke-47 diperkirakan akan terjadi pada 5 Januari 2038 dan gerhana terakhir tanggal 25 September 2470.

4. Fase Gerhana Matahari Cincin


Gerhana dibuka saat kontak kesatu terjadi yaitu saat piringan Bulan mulai menutupi piringan Matahari. Seiring berjalannya waktu, piringan Matahari tersebut akan kian besar sampai akhirnya semua Bulan mulai menutupi piringan Matahari.

Fase Bulan menutupi piringan Matahari ini dinamakan Kontak Kedua dan akan selesai saat semua piringan Bulan terakhir kali menutupi piringan Matahari, yaitu ketika Kontak Ketiga.
Kontak Kedua sampai Ketiga tersebut disebut Durasi Cincin yang durasi waktunya bervariasi. Saat fase ini terjadi, kecerlangan langit bakal meredup. Puncak keredupannya merupakan saat terjadi Puncak Gerhana.

Saat puncak gerhana terjadi, besaran piringan Matahari yang 'tergerhanai' bergantung pada magnitudo gerhana. Khusus di Indonesia, masa-masa puncak gerhana mulai pukul 11.49 WIB di Sabang, Aceh.

Sementara periode gerhana sangat akhir pukul 15.51 WIT di Jayapura, Papua.

5. GMC Tak Hanya Sambangi Indonesia


Berdasarkan keterangan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui penjelasan resminya, GMC tidak melulu menyambangi sebanyak wilayah di Indonesia. Setidaknya terdapat tujuh distrik yang dilalui jalur cincin GMC yakni Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Oman, India, Sri Lanka, Samudera Hindia, Singapura, Malaysia, dan Samudera Pasifik.

No comments:

Post a Comment