Tirto Adhi Soerdjo, Sosok Minke 'Bumi Manusia' di Dunia Nyata - TOGEL ONLINE TERPERCAYA

Breaking

Sunday, August 25, 2019

Tirto Adhi Soerdjo, Sosok Minke 'Bumi Manusia' di Dunia Nyata

Tirto Adhi Soerdjo, Sosok Minke 'Bumi Manusia' di Dunia Nyata

Tirto Adhi Soerdjo, Sosok Minke 'Bumi Manusia' di Dunia Nyata

 Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo dikenal sebagai figur kebangkitan nasional dan pun bapak pers Indonesia. Dedikasi RM Tirto itulah yang kesudahannya menginspirasi Pramoedya Ananta Toer untuk membuat sosok Minke dalam novel Bumi Manusia dan ketiga novel lainnya dalam Tetralogi Buru. 

Sosok Minke memang dinamakan mengacu pada sosok Tirto Adhi Soerjo. Hal tersebut sudah dikonfirmasi oleh adik kandung Pramoedya Ananta Toer, Soesiko Toer dalam wawancaranya dengan sejumlah media.

Pramoedya menjadi sosok yang berjasa sebab dapat pulang memutar memori bangsa Indonesia akan figur yang berjasa dalam pers Indonesia yang namanya nyaris dilupakan dalam suatu roman bertajuk sejarah. 


Sementara dalam kitab "Sang Pemula", Pram pun mengungkapkan tidak sedikit dokumentasi tentang jejak tahapan Tirto.
Di samping Pram, hikayat soal Tirto pernah pun ditulis dalam suatu syair karya Priatman yang berjudul "Di Indonesia 1875-1917". Syair ini kesatu kali diterbitkan pada kitab "Perdjoengan Indonesia dalam Sedjarah" dan pulang disiarkan pada eksemplar "Lentera", edisi 24 Agustus 1962.

Nama Tirto di Indonesia memang tak pernah gencar diluncurkan sebagai figur yang berjasa khususnya dalam dunia pers. Miris, sebab sampai akhir hayatnya masih jarang khalayak yang tahu ia tidak sedikit berjasa untuk bangkitnya pergerakan kaum terdidik Indonesia. 

Ia menjadi pemula dalam bangkitnya pers asli dan melawan pergerakan sosial terhadap penjajahan. Tulisan-tulisannya mengajarkan kaum asli sebagai kaum terjajah guna bangkit dan tak boleh meratapi nasib. 
Tirto baru diserahkan gelar pahlawan nasional pada tahun 2006, yaitu 100 tahun setelah menegakkan surat kabar Medan Prijaji tahun 1906. Pada tahun 1973 pemerintahan Soeharto melulu memberikan gelar 'Perintis Pers Indonesia' kepadanya 

Perjuangan 'Minke' ini sebenarnya paling sederhana, yaitu hendak menyatukan semua kelompok senasib. Semua masyarakat dipersatukan sebagai kaum terjajah atau bangsa terperintah. 

Hal ini tampak dari slogan surat kabar Medan Prijaji yang ia dirikan "Bagi raja-raja, bangsawan baik usul dan benak (kaum intelektual), priyayi, sampai saudagar yang dipersamakan dengan Anak Negeri di semua Hindia Belanda."

Tirto menjadi orang kesatu yang memakai surat kabar sebagai sarana propaganda dan pembentuk pendapat umum. Dia berani menulis sekian banyak  kecaman pedas yang ditujukan untuk pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu. 
Ia pun membangun lembaga pers Soenda Beirta (1903-1905), Medan Prijaji (1907), dan Poetri Hindia (1908). 

Karier Tirto sedang di puncak ketika ia memimpin Medan Prijaji, surat kabar nasional kesatu yang memakai bahasa Melayu dan semua pekerjanya ialah orang pribumi. 

Sering mengalirkan kritik pedas terhadap pemerintah Hindia Belanda dan mengungkap sejumlah kasus ketidakadilan, Tirto sejumlah kali sempat dipisahkan selama berbulan-bulan. 
Dia pernah dipisahkan selama enam bulan sebab menulis tulisan yang saat tersebut disebut pengadilan menghina Bupati dan Patih Rembang, Raden Adipati Djojodiningrat dan Raden Notowidjojo.

Tirto pun pernah mendapat hukuman yang sama sekitar dua bulan yakni pada 18 Maret-19 Mei 1910 ke Telukbetung, Lampung. Penyebabnya sebab memuat tulisan berisi sangkaan persekongkolan antara Calon Pengawas Purworejo A Simon dengan Wedana Tjokrosentono bersangkutan pelantikan Lurah Desa Bapangan, Distrik Cangkrep, Purworejo.

Seburam riwayat masa kecilnya, kisah akhir hidup Tirto pun samar. Jejak cikal bakal perlawanan lewat media massa yang bermunculan di Blora tahun 1880 tersebut hilang begitu saja, seolah tak pernah ada.

Pada selama Juni 1915, Tirto disebut telah berada di Batavia setelah dilemparkan ke Ambon pada tahun 1912-1913.Bercerita untuk CNNIndonesia.com pada tahun 2016 lalu, Cicit Tirto, Raden Mas Joko Prawoto Mulyadi atau biasa disapa Okky Tirto, menduga, buyutnya itu diselamatkan dalam suatu operasi intelijen yang dilaksanakan pemerintah kolonial Belanda.

Tirto dapat jadi didiamkan dalam operasi intelijen pemerintah kolonial semenjak tahun 1912 sampai tutup umur pada 7 Desember 1918. Namun jejak karya jurnalistiknya, tergolong keberanian dan perlawanannya terhadap ketidakadilan masih membekas sampai kini.

Tak melulu di dunia jurnalistik, dia pun berjasa dalam bidang pergerakan nasional dengan menegakkan Serikat Dagang Islam yang bertujuan guna memajukan perniagaan pribumi atau bumiputera.

No comments:

Post a Comment