Cerita Pesugihan: Suara Misterius dari Koridor Indekos - TOGEL ONLINE TERPERCAYA

Breaking

Monday, May 4, 2020

Cerita Pesugihan: Suara Misterius dari Koridor Indekos

Cerita Pesugihan: Suara Misterius dari Koridor Indekos



Salimah baru saja menata rak buku yang dibelinya kemarin. Ia menghela nafas,sebuah perayaan kecil atas keberhasilannya dalam merombak kamar kosnya yang baru.
Perempuan itu memilih kosan tersebut karena letaknya yang tidak begitu jauh dari kantor barunya. Adapun harga yang ia dapat tergolong murah ketimbang beberapa indekos lain yang sudah ia survei sebelumnya.
Ketika pertama kali datang ke indekos ini, Salimah disambut dengan baik oleh pak Burhan dan bu Hamidah. Sepasang suami istri itu sudah hidup dari uang indekos sejak beberapa tahun lalu. Pak Burhan adalah mantan pegawai di sebuah bank dan bu Hamidah setiap harinya menjaga toko kelontong yang letaknya persis di samping rumah mereka.
Pak Burhan memutuskan untuk mendirikan indekos di atas rumahnya dan toko kelontong disampingnya karena sudah tidak memiliki pekerjaan lain. Sebenarnya pak Burhan berhenti bekerja bukan karena pensiun, tapi karena sebuah peristiwa yang enggan untuk diceritakan kepada Salimah ketika pertama kali ia berkunjung.
Indekos milik pak Burhan tergolong murah untuk fasilitas yang disediakan. Kamarnya dilengkapi AC dan, satu set perabotan yang terdiri dari meja,kursi serta lemari. Selain itu, kamar mandinya juga berada di dalam dan dilengkapi dengan air panas. Fasilitas tersebut sama sekali tidak bisa didapat dengan murah di tempat asal Salimah.
*
Kamar Salimah sudah tertata dengan rapih dan terlihat menarik jika dilihat dari sudut manapun, namun tetap saja Salimah hanya menatap langit-langit kamar di saat waktu menunjukkan pukul 12 malam. Baru 2 malam Salimah tidur di tempat itu sehingga perjalanan menuju tidur menjadi suatu hal yang sulit.
Karena indekos milih pak Burhan dilengkapi wifi, Salimah bisa memanfaatkannya untuk mencari lagu di layanan streaming musik dengan harapan lagu tersebut dapat mengantarkannya ke alam mimpi. Sayangnya, sudah hampir 10 lagu terputar, tapi tetap saja kantuk tak kunjung datang.
Salimah kemudian mengambil sebuah buku dari rak barunya. Buku tersebut kebetulan menarik dan belum selesai ia baca karena rutinitas di kantor menyita sebagian besar waktunya.
Sebanyak 3 lembar hampir membuatnya tertidur dengan keadaan tengkurap, namun tiba-tiba ia mendengar sesuatu yang sangat asing. Di luar, ia mendengar sebuah suara yang terdengar seperti orang mendengkur.
Meski begitu, Salimah yakin bahwa tidak ada suara dengkuran yang terdengar seperti itu, hanya saja ia tidak menghiraukannya dan memilih untuk menutup buku lalu mencoba untuk memejamkan mata untuk yang kesekian kalinya.
Keesokan paginya, Salimah bertanya kepada Andra sebelum ia berangkat kerja. Andra sendiri adalah salah satu penghuni kos pertama dan satu-satunya yang Salimah kenal. Mereka berkenalan ketika Andra menawarkan diri untuk membawa barang-barang Salimah ketika baru pindahan.
“Andra, tadi malam kamu ngedenger suara orang ngorok gak di koridor?” tanya Salimah.
“Ah, aku enggak denger apa-apa di atas atau akunya aja udah ketiduran,” jawab Andra yang kamarnya berada satu lantai di atas kamar Salimah.
“Masa sih? Itu suaranya jelas banget,” Salimah mencoba meyakinkan.
“Suara hantu kali, hiiii! Kan lagipula tadi malam itu malam Jumat kliwon, ditamah kamar di koridor kamu masih banyak kamar yang belum keiisi, hiii!” Andra menakut-nakuti Salimah.
Malam harinya, Salimah baru bisa bertemu dengan pak Burhan untuk menanyakan perihal suara orang ngorok. Kebetulan pak Burhan baru saja merapikan salah satu kamar yang berada di pojok koridor.
“Beres-beres, pak?” tanya Salimah.
“Iya, ada yang baru keluar. Katanya sih dia kehilangan uang 1 juta tadi malam. Dari pagi saya ngurusin dia sampai lapor ke kantor polisi,” jawab pak Burhan dengan wajah yang agak murung.
“Lah, gimana ceritanya pak? Kok bisa hilang?” tanya Salimah heran.
“Saya juga gak paham. Semalam anaknya tidak tidur di kosan, kamarnya dikunci, tapi uangnya raib gak tau kemana.. Barangkali ada yang gak suka kali sama dia atau saya,” jawab pak Burhan.
“Duh, semoga kosan bapak baik-baik aja ya, saya udah betah soalnya di sini,” Salimah mencoba menenangkan pak Burhan.
“Semoga. Saya soalnya semalem di rumah saudara sama istri saya. Saya tanya ke anaknya sih semalem digembok,”ujar pak Burhan.
Salimah hanya diam saja.
*
Sudah sebulan Salimah tinggal di indekos pak Burhan, waktu yang cukup baginya untuk beradapatasi. Hal itu juga yang membuatnya tidak lagi kesulitan untuk tidur.
Waktu menunjukkan pukul 1 pagi, berkas yang harus diselesaikan oleh Salimah masih tersisa 3 lagi. Keheningan sudah beberapa kali hampir membuat Salimah tertidur, tapi rasa takut jika tugasnya tidak terselesaikan terus menuntun Salimah dalam bekerja.
Ketika ia membuka berkas terakhir, tiba-tiba ia mendengar suara yang taka asing, suara yang ia dengar 1 bulan lalu.
Salimah mencoba untuk menelpon Andra karena suara mendengkur misterius itu terdengar lagi, hanya saja ia baru ingat kalau Andra sedang pulang ke rumah karena ayahnya sakit.
Suara tersebut menganggu Salimah karena terdengar lebih keras dari terakhir kali ia dengar. Merasa penasaran akan sumber suara itu, Salimah menghentikan pekerjaannya sejenak dan memutuskan untuk mengintip ke luar dari jendela.
Salimah membuka sedikit gorden agar keberadaanya tidak diketahui dan apa yang ia lihat ternyata berada di luar dugaaan. Tak jauh dari kamarnya, terdapat seekor babi berwarna hitam. Yang membuat Salimah heran, babi itu ukurannya lebih besar dari babi-babi yang ia lihat di televisi atau internet dan memiliki wajah yang buruk rupa. Bagi Salimah, wajah babi tersebut sedikit mirip dengan manusia.
Babi tersebut seperti sedang mencari makan di tembok kamarnya. Terlihat mulutnya sedang mengendus-ngendus tembok bercat putih itu.
Pertanyaan besar timbul besar di dalam kepala Salimah. Ia bertanya-tanya mengapa bisa ada seekor babi di indekos pukul setengah 2 pagi. Tak butuh lama, ia teringat kejadian sebulan lalu di mana ia mendengar suara misterius yang diikuti seorang penghuni yang memutuskan pindah akibat kehilangan uang.
Salimah mengambil hp dan mencoba untuk menelepon pak Burhan. Kepanikan mulai merasuki dirinya saat nada tunggu dari berdengung di telinganya.
“Haduh, gak diangkat lagi,” ujar Salimah dalam hati.
Perempuan itu tidak ingin indekos atau bahkan dirinya menjadi korban pesugihan. ia memberanikan diri untuk keluar dan mengusir babi itu dengan berteriak sekencang mungkin.
“Babi ngepet! babi ngepet!” teriak Salimah setelah membuka pintu dengan satu hentakan.
Babi itu kaget bukan kepalang. Ia seperti kebingungan untuk mencari jalan kabur, sedangkan Salimah masih belum berhenti berteriak.
Salimah mulai mengejar babi itu. Babi tersebut berlari kencang dan memutuskan untuk melompat dari balkon yang tingginya 4 meter. Salimah menghampiri balkon dan melihat babi tersebut masih berlari dengan keadaan pincang, masuk ke dalam kebun yang berada di seberang indekos.
Setelah berhasil mengusri babi ngepet dengan berteriak sekencang mungkin, Salimah tak menyangka jika tidak ada satupun orang di kosan. Ia sendirian.
Perempuan itu bergegas pergi ke depan pintu rumah pak Burhan untuk melaporkan apa yang terjadi. Sudah belasan kali pintu diketuk, baik pak Burhan maupun bu Hamidah tidak muncul sama sekali.
Keesokan paginya, Salimah baru bertemu dengan pak Burhan yang baru saja datang menggunakan sepeda motor dengan bu Hamidah. Pak Burhan merasa kebingungan dengan apa yang diceritakan oleh Salimah. Ia juga mengaku bahwa tadi malam ia menginap di rumah mertuanya.
“Semoga babi ngepet sialan itu tidak kembali lagi. Saya akan cari orang yang bisa mengatasi masalah ini,” ujar pak Burhan.
Setelah itu, pak Burhan izin pamit untuk masuk ke dalam dan begitupun Salimah yang pamit untuk pergi kerja. Di jalan menuju tempat kerja, Salimah teringat sesuatu. Ia lupa bertanya mengapa pak Burhan jalannya pincang sehingga harus dituntun bu Hamidah.

No comments:

Post a Comment