[Kisah di Balik Karpet Merah] Aktor Ini Salah Kirim Chat ke Orang yang Dibencinya - TOGEL ONLINE TERPERCAYA

Breaking

Saturday, April 25, 2020

[Kisah di Balik Karpet Merah] Aktor Ini Salah Kirim Chat ke Orang yang Dibencinya

[Kisah di Balik Karpet Merah] Aktor Ini Salah Kirim Chat ke Orang yang Dibencinya


Source: Unsplash (Sajid Ali)

Alkisah dua aktor papan atas Indonesia terlibat dalam sebuah pergelaran besar. Sebut saja namanya A dan B. Sebagai informasi, dua aktor ini produktif di layar lebar. Anda yang jarang ke bioskop pun pasti mengenali muka mereka. Kembali ke pokok masalah. A dan B menjadi panitia sebuah event. Si A sebagai pemimpin punya wewenang membuat dan menentukan putusan. Sejumlah koordinasi disampaikan A melalui grup chat. Yang namanya putusan tentu tak bisa memuaskan semua pihak. Ndilalah, beberapa kali A bikin keputusan dan B kurang sreg dengan itu.
Di puncak ketidakcocokan dengan A, diam-diam B bikin grup chat tandingan. Ia mengumpulkan sejumlah pekerja seni ke grup chat tandingan itu. Berhari-hari menggunjing dan mengkritisi kebijakan si A di grup buatannya, B bahagia dan puas. Tapi ingat, sepandai-pandainya tupai melompat, ada kalanya terpeselet dan jatuh juga. Bermain di dua perahu jelas butuh keluwesan dan yang tidak kalah penting, ketelitian. Salah kamar haram hukumnya. Lagi ngomongin si A, eh, malah dikirim ke grup  yang ada A-nya. Kan, celaka. Itulah yang terjadi pada si B.
Suatu hari B mencela gaya kerja si A dengan bahasa yang aduhai, aduh nyinyirnya. Sialnya, B salah kamar. Aplikasi chat itu memang dilengkapi fitur menghapus pesan. Apes. A kadung membaca isi pesan salah kamar itu. Emosi, A menghubungi B dan mempertanyakan apa maksud pesan itu. Lalu terbongkarlah keberadaan grup tandingan yang mayoritas berisi nyinyiran sekelompok orang. 
A siap mundur jika kinerjanya dinilai buruk memberatkan banyak pihak. Masalahnya, sampai hari H, acara berlangsung relatif aman dan terkendali. Nyaris tak ada komplain dalam perhelatan itu. Bahwa A kecewa, itu pasti. “Mas B, kalau lo enggak suka sama saya bilang saja di depan muka saya. Mas B enggak perlu bikin grup tandingan dan ngomongin saya di belakang. Buat apa? Kita sama-sama sudah gede. Kalau Mas ada ganjalan bilang saja,” ujar A kepada B.
“Gue minta maaf. Ini gue yang salah,” jawab B. Aktor B dengan jantan minta maaf atas kesalahannya. B menjelaskan dengan detail duduk perkara tanpa menuding pihak lain yang terlibat dalam grup WhatsApp tandingan itu. Prinsipnya, B salah. Ya sudah, salah ya salah. Tak perlu mencari kambing hitam agar terlihat (sedikit lebih) benar. 
A memaafkan B. Mereka kemudian bertegur sapa seperti biasa. A mengatakan, “Ya sudah. Dia sudah minta maaf. Dia lebih tua dari gue. Gue juga respek dengan sikapnya yang mengakui dan meminta maaf. Yang penting acara berjalan lancar dan bicara soal laporan pertanggungjawaban termasuk dana, kan gue bersih. Gue enggak ada permainan soal ini.”
Mendengar curhatan ini, saya diam sejenak. Lalu berpikir hal seperti ini sangat mungkin atau pasti pernah terjadi dalam hidup Anda dan saya. Saya kemudian teringat peristiwa beberapa bulan sebelumnya. Atasan saya punya tangan kanan yang kinerjanya kacau balau. Sebut saja Nur. Cuma pintar ngomong dan menyuruh. Giliran disuruh menulis, ya ampun! Membaca tulisannya bikin kepala saya mendadak migrain. Orang ini menjadi musuh publik lantaran banyak omong dan wacana, pelit, dan begitulah. 
Beberapa teman kantor curhat kepada saya soal kelakuannya. Kalau salah satu di antara kami bikin kesalahan, ia langsung mewacanakan sanksi apa yang pantas untuk yang bersalah. Beberapa minggu kemudian, dia melakukan hal yang sama. Hanya, dikemas lebih rapi. Bahkan, ia pernah tepergok membuat kesalahan fatal. Ajaibnya, Nur menganggap itu wajar. Seolah tak terjadi apa-apa. 
Suatu siang, saya dan sejumlah teman menggunjing orang ini lewat chat. Saya yang gaptek ini memberi bumbu penyedap dalam pergunjingan terasa lebih pedas. Termasuk membahas latar belakang orang ini yang rupanya tak pernah mencicipi pendidikan jurnalistik. Bodohnya saya, pesan itu malah saya kirim ke Nur. Astagfirullah, saking paniknya pesan itu kemudian saya hapus lalu nomor kontak Nur saya blok. 
Seorang teman yang mengetahui hal ini mencaci maki saya habis-habisan. Beberapa jam kemudian, saya kembali ke kantor. Nur menyapa saya sambil senyum. Saya mati-matian berakting seolah hari ini tidak terjadi apa-apa. Berkaca pada momen ini, saya tahu perasaan B. Pun saya bisa berempati pada A yang jadi korban perundungan tanpa sepengetahuannya. Di pengujung tulisan ini, saya ingin berbagi tips buat Anda yang mau menggunjing orang di grup maupun jalur pribadi aplikasi chat dan sejenisnya:
1. Sebelum mengetik gunjingan atau nyinyiran, cek dulu nama penerima atau nama grup. Sebelum ketuk tombol send atau kirim, cek ulang untuk memastikan. Oh ya, lebih baik, nomor orang yang mau digunjing disembunyikan. Biar lebih aman, menghindari salah kirim ke yang digunjing.
2. Jangan kebablasan kalau nyinyir di grup. Ingat, tidak semua anggota grup membenci yang bersangkutan. Siapa tahu ada agen ganda yang melapor ke orang yang Anda gunjing. Hari gini jangan terlalu polos percaya orang.
3. Setelah kirim nyinyiran, jangan langsung beralih ke kamar lain. Baca ulang dan jika ada yang salah, segera hapus untuk mengecilkan kemungkinan dibaca orang banyak.
4. Saya ingin mengutip lirik lagu grup hip-hop Sweet Martabak yang terkenal di era 1990-an. Salah satu hit mereka, berjudul “Ada Sumur Di Ladang.” Begini bunyi refrainnya: Kalau ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi, kalau abang suka nyela orang, jangan lupa disikat gigi. Dengan kata lain, sebelum mencela orang, pastikan diri kita lebih bersih dan baik. Enggak lucu, dong kita sibuk mencela orang padahal, bau mulut kita lebih busuk daripada kelakuan yang dicela.
5. Saya pernah mewawancara Agnes Monica. Dia bilang begini, “Orang-orang menggunjing di belakang karena Anda berada selangkah di depan mereka.” Paham?

No comments:

Post a Comment