Apa itu Masjid Agung Banten? Masjid Tertua di Indonesia yang Penuh Keistimewaan
Ajaran Islam diangkut oleh semua wali ke Nusantara dengan nilai-nilai kedamaian. Implementasinya juga tidak lepas dari kebiasaan lokal yang sudah ada. Maka dari itu tidak sedikit masjid di Indonesia yang diprovokasi oleh kebiasaan lokal. Seperti Masjid Agung Banten.
Masjid ini menjadi yang tertua di Indonesia sebab dibangun oleh Sultan Hasanuddin pada tahun 1552-1570. Sultan Hasanuddin adalahanak kesatu dari Sunan Gunung Jati. Masjid Agung Banten menjadi bangunan bersejarah yang sakral. Tak tidak banyak masyarakat berangjangsana ke masjid ini guna beribadah dan berziarah ke makam semua Sultan Banten.
Pesona Masjid Agung Banten hadir sebagai kupasan dalam program “Belajar dari Rumah” guna SMP pada Senin (27/4) di stasiun televisi publik TVRI.
Sejarah singkat masyarakat Banten sebelum masuknya Islam pada wilayah itu
Sebelum Islam berkembang di Banten, masyarakat masih hidup dalam tata teknik kehidupan tradisi prasejarah serta dalam adab permulaan masehi saat doktrin Hindu masih berkembang di Indonesia.
Hal itu nampak dari sebanyak peninggalan kuno dalam format prasasti yang mempunyai sifat Hinduistik dan bagunan keagamaan lainnya.
Pada kala itu, Kerajaan Banten dipimpin oleh seorang Raja mempunyai nama Pucuk Umun dengan doktrin animisme Sunda Wiwitan. Setelah adanya hubungan kebiasaan antara Kerajaan Banten dengan salah seorang cucu dari Prabu Siliwangi yaitu Sultan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), diutuslah Sultan Maulana Hasanuddin untuk menyerahkan syiar Islam untuk Raja Banten Pucuk Umun.
Ketika kedua pihak tersebut beradu ilmu, kesudahannya Kerajaan Banten yang dipimpin oleh Pucuk Umun juga jatuh.
Kekalahannya tersebut membuat Raja Pucuk Umun mau pergi ke Mekkah guna memperlajari ilmu agama Islam. Semenjak itu, distrik kerajaan Banten menjadikan Sultan Maulana Hasanuddin sebagai pemimpin kesultanan Islam baru dan terlepas dari otoritas ayahnya yaitu Sunan Gunung Jati (Sultan Syarif Hidayatullah) di Kesultanan Cirebon.
Saat menjadi pemimpin kesultanan Islam yang baru, Sultan Maulana Hasanuddin membina Masjid Agung Banten. Masjid itu adalahpusat penyebaran Islam di Banten semenjak masa pemerintahannya.
Masjid Agung ini terletak di Provinsi Banten, selama 10 km sebelah unsur utara kota Serang. Kini masjid Agung Banten menjadi lokasi wisata religi dan kehormatan hati masyarakat Banten.
Akulturasi kebiasaan dalam pembangunan Masjid Agung Banten
Keistimewaan masjid ini terletak dari arsitektur bangunannya yang terbilang menarik dan sarat makna, sebab memadukan sekian banyak budaya dalam satu bangunan.
Masjid Agung Banten ini terdiri dari perpaduan sejumlah sentuhan kebiasaan dari Tiongkok, Jawa, Hindu, dan Eropa. Salah satu ciri khasnya merupakan atap utama yang nampak bertumpuk lima laksana Pagoda yang terdapat di Tiongkok.
Arsitektur pembangunan masjid ini merupakan Lucas Cardeel pada masa pemerintahan Sultan Haji tahun 1672-1687. Lucas Cardeel adalahpria berkebangsaan Belanda, ia merancang masjid tersebut dengan gaya arsitektur Belanda kuno.
Di samping keistimewaan pada ciri bangunannya, Di Masjid Agung Banten ada komplek makam semua sultan Banten dengan keluarganya. Seperti makam dari Sultan Maulana Hasanuddin beserta istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar.
Selain tersebut ada dua serambi masjid yang terletak di sisi unsur utara dan unsur selatan bangunan utama, serambi itu dirancang oleh arsitek asal Tiongkok yaitu Tjek Ban Tjut. Arsitek tersebut juga bertanggung jawab terhadap pembangunan umpak batu andesit yang serupa Pagoda Tiongkok.
Keunikan Bangunan Masjid Agung Banten
Bangunan Masjid Agung mempunyai luas 1,3 hektar dengan luas komplek yang dikelilingi oleh tembok setinggi satu meter. Menara dari masjid ini terbilang menarik sebab bertolak belakang dengan Menara masjid umumnya.
Masjid Agung Banten mempunyai Menara yang serupa dengan bangunan mercusuar. Pengunjung bisa menaiki Menara itu sampai ke puncak dengan melalui 83 anak tangga.
Keunikan lainnya dari Masjid Agung Banten merupakan ada umpak batu andesit yang serupa seperti labu dalam ukuran besar. Labu menjadi simbol dari pertanian, sebab Banten lama familiar makmur.
Bahkan wilayah ini dikenal dengan persawahannya yang luas sampai ke sungai Citarum. Simbol pertanian sendiri pun sebagai pengingat serta mengindikasikan kemakmuran Banten pada zaman lampau.
Pada Masjid Agung Banten ada 24 tiang yang mempunyai makna sebagai jumlah masa-masa pada satu hari sarat (24 jam) serta lima tiang kayu yang sedang di ujung atas dalam masjid sebagai penanda keharusan sholat lima kali sehari.

No comments:
Post a Comment