Mausoleum Thio Sing Liong, Abadinya Sang Taipan. - TOGEL ONLINE TERPERCAYA

Breaking

Monday, January 20, 2020

Mausoleum Thio Sing Liong, Abadinya Sang Taipan.

Mausoleum Thio Sing Liong, Abadinya Sang Taipan.



Mausoleum Thio Sing Liong, Abadinya Sang Taipan

Mausoleum Thio Sing Liong sedang di Jalan Sriwijaya, Peterongan, Semarang, tak jauh dari pertigaan Jalan Wonodri Sendang Raya dan Jalan Sriwijaya. Mausoleum ini ialah bagian dari Makam Keluarga Thio Sing Liong dan tergolong dalam susunan cagar kebiasaan kota Semarang.

Area ini semula adalahpemakaman Tionghoa mempunyai nama Tegalwareng. Luasnya konon menjangkau lima hektare, menyatu dengan Makam Besar Bangkong. Desakan pendirian bangunan komersil mengakibatkan tergusurnya pemakaman Tegalwareng, kecuali Makam Keluarga Thio Sing Liong.
Thio Sing Liong (1871 - 1940) ialah pengusaha besar di bidang properti dan pengekspor rempah-rempah di bawah firma NV Thio Sing Liong. Propertinya sampai kini tersebar di Semarang. Dua di antaranya gedung bekas perusahaan asuransi Lloyd Indonesia yang bersebelahan dengan bangunan yang dikenal instagrammers dengan julukan "Rumah Akar" di Kota Lama, serta gedung yang ditempati Toko Oen di Jalan Pemuda.
Mausoleum terletak di ketinggian, selama tiga meter lebih tinggi dari jalan. Dari luar, bangunan mausoleum terlihat seperti lokasi tinggal ibadah Tionghoa atau klenteng. Tinggi dindingnya sekira lima meter. Jika hingga puncak atap dapat mencapai tujuh meter.

Tiga sisi mausoleum ialah dinding solid. Satu sisi lain, yaitu yang menghadap jalan (utara), ialah sepasang pintu angin tinggi berbahan rangka besi yang dijepit dua pintu angin.

Antara gerbang dan pintu utama ada semacam altar batu lokasi peziarah sembahyang menghadap unsur timur untuk "kulonuwun" dahulu sebelum masuk.

Di dalam bangunan tinggi itulah ditaruh dua peti marmer hitam besar setiap berukuran 220 x 100 x tinggi 80 cm, yang dindingnya dipahat karakter Mandarin nama keduanya. Bahannya dari marmer hitam Italia berbobot | berbobot | berkualitas tinggi yang biasa dipesan bangsawan Eropa.

Di sinilah jasad Thiong Sing Liong dan istri ke-tiga sekaligus terakhir, Goei Kwan Nio (1878-1954), dibaringkan. Di dalam peti kayu yang dimasukkan ke dalam peti marmer yang tidak ditenggelamkan ke tanah.

Penutup setiap peti berupa patung marmer putih berbentuk sosok Thio Sing Liong dan Goei Kwan Nio. Keduanya dalam posisi bangun tidur, duduk di atas lokasi tidur menghadap utara, dengan selimut masih terdapat di pangkuan. Thio Sing Liong berjas dan berdasi. Goei Kwan Nio mengenakan cheongsam dan rambutnya digelung.

Di sisi peti Thio Sing Liong dan Goei Kwan Nio berdiri dua potret bocah Goei Thuan Hwat sedang dipeluk setiap oleh kakek dan neneknya itu.

Di dinding mausoleum dipajang potret pemakaman Thio Sing Liong yang dihadiri tidak sedikit kerabat dan karangan bunga.

Sejumlah karangan bunga berbahan tembaga masih terpasang di dinding. Cat warna-warninya tetap terlihat walau telah kusam. Salah satu pengirimnya Societeit Hwa Yoe Hwee Kwan. Tertulis di karangan bunga tersebut angka 1940, tahun kematian Thio Sing Liong.

Makam istri kesatu Thio Sing Liong, Tan Tien Nio (sebelum 1900- sebelum 1905), terdapat di belakang mausoleum.

Makam berikut yang jadi cikal akan dijadikannya Tegalwareng sebagai lokasi pemakaman family Thio Sing Liong.

Beberapa waktu sesudah wafatnya Tan Tien Nio dampak kecelakaan delman, pada 1906 Thio Sing Liong memperluas areal makam dengan melepaskan lahan kepunyaan orang beda di pemakaman tersebut seluas 72 meter persegi.

Dengan izin Wali Kota Semarang Hadisoebeno Sosrowardojo, pada tahun 1955, lahan pemakaman kepunyaan Thio Sing Liong diperluas lagi menjadi 500 meter persegi.
Ketika Thio Sing Liong wafat, tahun 1940, jenazahnya ditabung di peti mati yang lantas dimasukkan dalam peti marmer, tidak ditenggelamkan ke tanah. Mausoleum ini membelakangi makam istri kesatunya.

Empat belas tahun kemudian, istri ketiga dan sangat disayang, Goei Kwan Nio, menyusul mendampingi suami. Jenazahnya pun diabadikan di samping Thio Sing Liong.

Istri kedua, Tjoa Kwat Nio (sebelum 1910-1967), beda lagi ceritanya. Perkawinan yang tak direstui istri kesatu menciptakan jenazah istri kedua tidak dimakamkan di Tegalwareng. Tjoa Kwat Nio dimakamkan di pemakaman Tionghoa di wilayah Kobong, Semarang.

Pemakaman Kobong lantas pada 1970-an digusur pemerintah guna dijadikan pasar ikan mempunyai nama Pasar Kobong. Makam Tjoa Kwat Nio kesudahannya dibongkar, jenazahnya dikremasi.

Di belakang mausoleum disiapkan pun makam guna anak laki-laki Thio Sing Liong dari istri kesatu, yaitu Thio Tiam Tjong. Namun sebab Thiam Tjong meninggal di Belanda, makam tersebut kosong. Hanya terdapat bongpay bertuliskan nama Thio Thiam Tjong dan dua istrinya: Goei Hoen Yang (1902 - 1945) dan Goei Lee Ging (1903 -1985).

Goei Hoen Yang yang wafat dampak sakit dimakamkan di sini. Thiam Tjong lantas menikahi adik iparnya, Goei Lee Ging. Dari dua istrinya, Thio Thiam Tjong tak berketurunan.

Agak berjarak dari makam istri Thio Thiam Tjong ialah makam Goei Thwan Hwat (kira-kira 1925 - 1950). Goei Thwan Hwat sebetulnya anak dari puteri Thio Sing Liong dari istri kesatu, Tan Tien Nio. Sang puteri, Thio Kiong Nio, menikah dengan Goei (Goey) Ing Liat.

Goei Thwan Hwat menjadi cucu favorit Thio Sing Liong dan Goei Kwan Nio yang tak berketurunan, sehingga fotonya ikut menemani hingga di makam kakek dan neneknya itu.

Padahal, menurut keyakinan Tionghoa, ialah sebuah pantangan meletakkan potret orang yang masih hidup, di kuburan.

Karenanya kematian sang cucu yang dirasakan tidak wajar lantas dikaitkan dengan keyakinan itu. Goei Thwan Hwat meninggal sesudah jatuh dari sepeda motor di Jalan Mataram Semarang pada tahun 1950.

Perawatan terus digarap di Makam Keluarga Thio Sing Liong, antara lain mewarnai dinding dan teratur memeriksa supaya atap tidak bocor.

Keturunan Thio Sing Liong masih menziarahi perumahan makam ini, khususnya pada hari Ceng Beng (hari ziarah kubur).

Masyarakat umum pun dapat berziarah dengan mendatangi penjaga makam terlebih dahulu yang bermukim di belakang perumahan makam.

No comments:

Post a Comment