Kemarau Panjang dan Susahnya Menciptakan Hujan Buatan - TOGEL ONLINE TERPERCAYA

Breaking

Saturday, September 28, 2019

Kemarau Panjang dan Susahnya Menciptakan Hujan Buatan

Kemarau Panjang dan Susahnya Menciptakan Hujan Buatan

Sebuah helikopter menjatuhkan air hujan buatan saat kebakaran hutan di Orange, California, 9 Oktober 2017. REUTERS/Mike Blake

Usaha Tim Teknologi Modifikasi Cuaca atau Hujan Buatan Palangka Raya, Kalimantan Tengah, memancing hujan dalam dua pekan berbuah hasil. Selama 30 menit, pada Jumat, 20 September lalu, hujan deras menyiram Kota Palangka Raya dan Kabupaten Pulang Pisau di Kalimantan Tengah serta Martapura di Kalimantan Selatan, sebagaimana diadukan Majalah Tempo edisi 23 September 2019.

Sehari sebelumnya, menurut keterangan dari laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hujan dengan intensitas deras dilangsungkan di sebagian distrik Riau. Sudah 4.000 kilogram garam yang digunakan untuk memancing hujan produksi di area itu. Pelaksana tugas Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB, Agus Wibowo, menuliskan upaya memancing hujan produksi terus diintensifkan. “Agar kebakaran hutan bisa padam dan langit segera bersih kembali,” ujar Agus.

Kebakaran yang melalap area hutan, gambut, serta lahan di Sumatera dan Kalimantan telah merangsang kabut asap tebal yang merangsek sampai ke negeri jiran. Sejak Januari lalu, luas distrik yang terbakar telah lebih dari 328 ribu hektare. Ada nyaris 16 ribu titik panas (hotspot) yang terdeteksi—sekitar 8.800 di antaranya di Kalimantan.

Kebakaran ini ialah yang terburuk sesudah api membakar 2,6 juta hektare hutan dan lahan pada 2015. Guru besar bidang perlindungan hutan Institut Pertanian Bogor, Bambang Hero Saharjo, mengatakan situasi sempat tenang sesudah 2015. Kasus kebakaran menurun pada 2016-2018, tapi justeru melejit lagi tahun ini. “Kejadian 2015 seharusnya dapat menjadi latihan penting supaya tak terulang lagi,” ujar berpengalaman kebakaran hutan tersebut pada Rabu, 18 September lalu.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika telah menebak musim kemarau tahun ini dilangsungkan lebih panjang. Puncaknya jatuh pada Agustus lalu. Namun akibat kekeringan fanatik masih terasa di sejumlah wilayah Indonesia sampai akhir November. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengaku durasi musim kemarau tahun ini adalahyang terpanjang kedua, sesudah 2015.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Raffles Brotestes Panjaitan menuliskan telah mengantisipasi peringatan kemarau panjang BMKG dan bisa jadi terjadinya kebakaran. Wilayah yang pengawasannya sangat tinggi ialah Sumatera dan Kalimantan. Sejak Februari lalu, helikopter patroli dan pemadam kebakaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan disiagakan di Riau. Toh, kebakaran tetap meluas. “Setelah Juni, kekeringan paling tinggi, sulit menggali air,” katanya.

Hujan produksi menjadi salah satu tahapan untuk menanggulangi kekeringan. Dalam teknologi modifikasi cuaca ini, natrium klorida disebarkan dari pesawat terbang untuk memicu tumbuhnya awan hujan. Sekitar 163 ton garam sudah disebarkan guna memancing hujan buatan. Hujan produksi ini juga dapat membantu mengurai asap kebakaran di udara.

BMKG sempat kendala menciptakan hujan produksi karena awan tak mencukupi. Diperlukan awan paling tidak 80 persen supaya hujan produksi berhasil. Sedangkan semenjak Juli kemudian langit Indonesia bersih dari awan. “Bibit-bibit awan yang bakal disemai garam itu nyaris tidak ada,” kata Dwikorita.

Kabut asap pekat dari kebakaran rupanya mengganggu proses pembentukan awan. Gumpalan asap yang melayang dan terbendung di antariksa menghalangi sinar matahari tembus ke bumi. Akibatnya, proses penguapan air yang menjadi cikal-bakal awan ikut terhambat.

BMKG berkolaborasi dengan BNPB serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi memakai kapur tohor aktif atau kalsium oksida untuk meminimalisir asap dari kebakaran. BPPT menyiapkan selama 40 ton kapur tohor aktif di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, guna disebarkan di Sumatera dan Kalimantan.

Kapur tohor aktif yang mempunyai sifat eksotermis alias dapat menerbitkan panas tersebut ditaburkan dari pesawat di gumpalan asap guna mengurai partikel dan gas. “Konsentrasi asap berkurang, awan terbentuk, dan garam dapat ditebar guna hujan buatan,” tutur Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT Tri Handoko Seto.

Hujan produksi membantu memadamkan api di permukaan tanah. Namun kebakaran yang melalap lahan gambut lebih berbahaya. Luas lahan gambut yang terbakar ketika ini mencapai nyaris 90 ribu hektare—40 ribu hektare di antaranya di Riau. Kepala BNPB Doni Monardo menuliskan timnya sudah mengerahkan 42 helikopter pemadam. Personel pemadam kebakaran swasta, tentara, polisi, serta Manggala Agni Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pun turun tangan. “Tak memastikan gambut yang terbakar dapat padam,” kata Doni dalam konferensi pers di Graha BNPB pada Sabtu, 14 September lalu.

No comments:

Post a Comment